Aku dan Profesiku
Aku seorang guru sekolah dasar di sebuah yayasan di kotaku. Sesuai dengan ijazah yang aku kantongi, dari sekolah pendidikan guru, sebelum meraih gelar sarjana beberapa tahun berikutnya.
Awal cita-citaku bukan menjadi seorang guru. Dulu ketika masih bocah aku bercita-cita menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang menyeru tentang keadilan. Sungguh di kepalaku saat aku masih bocah, sering banget aku mengkhayal tengah berorasi menegakkan keadilan.
Entah keadilan tentang apa, aku begitu berapi-api menyampaikan pendapatku, dan di khayalku dulu begitu banyak orang-orang di depanku berteriak-teriak, hebat Diah, hebat Diah. Ternyata keliaran anganku sudah dimulai sejak masih bocah.
Menjadi guru merupakan amanah bagiku, menjadi guru menggenapkan keinginan ayahku. Iya, ayahku yang membisikkan kata-kata, bahwa menjadi guru itu mulia. Dari lima bersaudara, tiga putra ayahku menjadi guru, kakak lelaki dan kakak perempuan lalu aku. Tersenyumlah ayah di sana, melihat anakmu benar menjadi guru, seperti inginmu.
Menjelang dua puluh tahun menjadi guru, tentunya banyak suka dan duka dalam keseharianku. Label.guru galak begitu saja tersemat di namaku. Bu Diah galak, entah anggapan dari mana yang membuatku disebut guru galak. Sebab jika aku beneran galak tentu tak ada murid-murid yang begitu dekat denganku. Tak ada murid yang sungkan untuk mencandai aku.
Sekolah yang ketika awal saya masuk ke yayasan tersebut, muridnya bisa dibilang dengan jari per kelasnya, kini bisa mencapai tiga ratus lima puluhan lebih. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Pertama kali masuk sebulan berikutnya digaji Rp125.000,00 waktu itu tahun 2003, seneng banget, padahal saat masuk jadi guru di situ, aku sudah punya dua anak perempuan yang sulung kelas 2 SD dan yang kedua masih umur 3 tahun kurang. Pada saat itu niat saya ibadah, membantu sekolah yang hampir kolaps karena tidak ada murid dan guru-gurunya yang sudah mulai uzur. Guru-guru tersebut merupakan guru yang diperbantukan dari Kemenag, yang basicnya pendidikan agama, terpaksa menjadi guru kelas, yang mengajar semua mata pelajaran, tentu bisa dibayangkan bagaimana out put anak didik waktu itu.
Tertatih aku dengan kepala sekolah mulai memperbaiki mutu sekolah. Bersama dengan rekan-rekan yang mulai dilecut semangatnya lagi oleh kepala sekolah sekaligus pemilik yayasan. Dimulai dari mencari dana untuk operasional sekolah, yang kadang beliau keluarkan sendiri dari kantongnya, demi menyenangkan guru-gurunya. Tentu dengan harapan guru-guru tersebut menjadi bersemangat memajukan juga handarbeni* sekolah tersebut.
Upaya tersebut lama-lama membuahkan hasil, syiar-syiar yang kami lakukan akhirnya mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Riuh teriakan bocah-bocah mulai nyaring terdengar. Lantunan sholawat sebelum memulai pelajaran seperti sebuah mantra, mengobarkan semangat juga banyak doa, tentang harapan, kembali jayanya SD Islam Al Iman Kota Magelang, tempat aku menukarkan ilmuku.
Bukan tentang materi, jargon itu begitu mengakar di hati, tapi tentang sebuah dedikasi. Nyatanya begitu banyak kemudahan aku terima. Bahkan ketika memutuskan kuliah ambil S1 Pendiidukan Guru Sekolah Dasar, kala itu beasiswa, insentif begitu lancar mengalir.
Berkah, itu yang sering Ibu Kepala Sekolah tanamkan di dada kami para guru, waktu itu, dan nyatanya kami begitu menikmati profesi kami kala itu, suasana kekeluargaan begitu kental dalam keseharian di kantor ini.
Sehingga ketika era mulai beralih, siklus keluar masuk guru mulai sering terjadi, entahlah rasa nyaman itu, lambat laun pergi. Sekarang banyak yang mulai berhitung tentang materi. Sekarang ego mulai berbicara, dan lambat laun ternyata aku mulai juga hanyut dengan arus yang ada.
Andai suatu saat nanti aku harus pergi, pasti aku sangat merindukan tempat ini. Sangat rindu.
Komentar
Posting Komentar